mata tertutup, mulut terbuka

January 4, 2012

mock, mock,,,mock, mock…

dia melangkah ke depan, tetapi bergerak mundur.
sosok itu mendatangiku. badannya kirakira lebih tinggi setengah meter jika aku berdiri tegak. tubuhnya ditutupi kain tebal berlapis-lapis dan berwarna gelap. pria itu berambut gondrong dan berombak. rambutnya cokelat. bagian ubun-ubunya tak ditumbuhi rambut. dia berjambang lebat hingga menyatu dengan jenggot dan kumisnya. dia mendekat dan menengadah ke arahku. nafasnya segar seperti embun. kulihat gigi-giginya rapi dan sangat sangat putih bersih. dia menatap tepat di mataku dan berkata dengan suara berat yang lembut tapi tegas,
“tinggalkan segala milikmu di dunia ini, tinggalkan cara hidupmu yang lama, jalan kekerasan dan kesombongan,
dan ikutlah denganku.” sambil mengulurkan tangannya.
aku terpaku sambil bergelantungan di pohon kesukaanku, pohon berduri tak berdaun ini.

diulanginya lagi kata2nya. kali ini dengan suara yang lebih lembut dan sedikit kurang tegas dibanding yang sebelumnya. dan dia menambahkan, “bersamaku kamu akan selamat. dan bersama-sama kita akan menyelamatkan dunia.”

baru kusadari, bagaimana bisa dia berbicara dalam bahasaku. lalu dengan suara pelan dan ragu-ragu kutanyakan padanya,”sehebat apakah kamu, sehingga kamu bisa menyelamatkan dunia yang hampir hancur?”

dia menjawab dengan suara lantang ,”langit akan terbelah dan mengeluarkan api dengan perintahku. putri kerajaan manapun bisa kuubah menjadi babi hutan. orang mati bisa kubangkitkan. bumi bisa berputar tak beraturan. pelacur menjadi perawan. dan raja-raja menjadi budak, dan sebaliknya budak menjadi raja. orang tua tumbuh mundur menjadi bayi. kereta kuda para prajurit bergerak dengan gerakan lambat. hujan panah menjadi hujan emas. dan tanduk-tanduk menempel di dinding”

jawabku, “aku ingin mengikutimu. tapi aku tidak bisa pergi jauh dari pohon ini karena aku terlahir dari akar-akar pohon ini. dan hatiku masih tertancap di akar utama pohon ini. dan tanpa hatiku, umurku hanya tinggal 2 kalesi (satuan waktu dalam penanggalan bangsaku, sekitar 4 juta kali pergantian gigi belakang naga tanah). tapi jika aku mencabut hati dari akar pohon ini, pohin ini akan mati. pohon yang telah melahirkan dan memeliharaku selama 30 kalesi. aku minta padamu, ambilkan hatiku, dan buatlah pohon ini tumbuh di atas kepalaku. buatlah bulan menjadi lebih dekat sehingga temanku pungguk tak lagi harus merindu. buatlah temanku si katak menjadi lebih besar daripada tempurung sehingga dia tak lagi harus tertutup tempurung. dan imbangkan timbangan milik wanita tua ini, dan buat dia menjadi lebih kelihatan, karena selama ini dia tertutup lumpur hitam dan pekat itu. tanggalkanlah bulu-bulu ini dari tubuhku, dan biarkan bulu-bulu itu tumbuh di atas ubun-ubunmu. bagian licin itu sangat mengganggu. rontokkanlah duri2 dari ranting pohon ini agar burung burung bisa hinggap di atasnya. tukarkan tangan kiriku dengan tangan kananku. dan turunkan sebuah benda logam tipis yang berisi makhluk kadal berpakaian baja dan mengeluarkan sinar panas dari mulutnya. sehingga para tentara dan prajurit itu tak lagi saling berperang satu sama lain, tapi mereka akan bersatu melawan kadal-kadal itu. itu saja syaratku”

setelah mendengar permintaanku, pria itu tunduk dan jatuh bersimpuh pada lututnya. dia menangis. dan berkata, “ooo, debu mulia pembawa berita. aku menemukannya. aku menemukannya”.

“apa maksudmu?”

“dulu saat kaum huruf berperang satu sama lain, masa sebelum huruf-huruf mau disandingkan dengan huruf lainny, kaum Hiasan, makhluk yang terkenal cerdas dan bijak, makhluk yang berupa siluet, hidup dalam gelas hampa udara, membicarakan tentang debu mulia pembawa berita yang mengatakan bahwa akan ada sosok bertopeng yang rela membagi hatinya. dia akan menyeimbangkan yang tidak seimbang, dan membuat kaum manusia memuntahkan buah khuldi dari tenggorakannya.
sombongnya diriku ini mengajakmu menjadi pengikutku. maafkan aku yang bodoh ini. aku tidak menyadari bahwa yang dimaksud topeng adalah wajahmu yang ditutupi bulu dan jamur itu. ijinkan aku jadi pengikutmu.”

jawabku,
“baiklah.kau bisa duduk di bawah pohon ini, dan melihatku menari dari sana.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.